Minggu, 11 Juli 2010

perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu menggunakan Glukometer dengan ABX pentra 400

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan kesehatan Indonesia di arahkan dan bertujuan guna mencapai kesehatan yang optimal bagi setiap penduduk Indonesia. Sejak awal upaya untuk memecahkan masalah kesehatan linkungan,di antaranya program imunisasi, dan penemuan berbagai obat yang efektif untuk membantu masyarakat dalam menanggulangi penyakit.

Program kesehatan tahun 2000 dan selanjutnya ditetapkan bahwa program perbaikan gizi merupakan salah satu prioritas. Pemerintah akan mengupayakan masyarakat untuk dapat menjalani pola hidup sehat dan menerapkannya serta dilakukan secara tepat kearah kelangsungan tersebut khususnya para penderita DM, gizi merupakan satu bagian penting pada pengelolaan DM (Sarwono dkk, 2007).

Diabetes Melitus telah menjadi kematian terbesar keempat didunia setiap tahun ada 3.2 juta, kematian yang disebabkan langsung oleh diabetes, itu berarti ada satu orang per 10 detik atau 6 orang per menit yang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan diabetes (Hans T, 2008).

1

Tahun 2003 prevalensi Diabetes Melitus Di indonesia mencapai 21,3 juta orang. Sedangkan hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat diabetes melitus pada kelompok usia 45-54 tahun didaerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7. Dan daerah pedesaan penderita diabetes melitus menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8% (www.puskom. publik@yahoo.co.id). Angka penderita diabetes yang didapatkan di asia tenggara adalah: singapura 10,4 persen (1992), Thaliand 11,9 persen (1995), Malaysia 8 persen lebih (1997),dan Indonesia 5,7 persen (1992). Kalau pada tahun 1995 berada di nomor tujuh sebagai negara dengan jumlah diabetes terbanyak di dunia, pada tahun 2025 diperkirakan indonesia akan naik ke nomor lima terbanyak.

Dalam menentukan penyakit atau diagnosis, membantu diagnosis, prognosis. Pemantauan kadar gula darah penderita Diabetes Melitus secara teratur merupakan bagian yang penting dari pengendalian DM, terutama penderita DM tipe 1 dan DM tipe 2 (www.geoogle.co.id). Adanya glukosa dalam darah adalah indikasi bahwa seseorang mengalami diabetes, hal ini disebabkan karena glukosa terdapat dalam darah melampaui ambang batas atau nilai normal ( Hans T, 2008)

Penetapan kadar glukosa dengan menggunakan glukometer dan alat otomatik merupakan cara yang sering digunakan untuk mengetahui glukosa yang terdapat dalam darah, pemeriksaan ini hanya memerlukan waktu yang singkat. Dengan perkembangan zaman saat ini digunakan alat otomatik seperti Glukometer, ABX PENTRA 400, militron, urilux sampel darah secara normatik harus segar minimal dalam waktu 1 jam sudah dianalisis.

Berdasarkan uraian diatas penulis berkeinginan untuk mengadakan penelitian tentang perbandingan hasil pemeriksaan gula darah sewaktu menggunakan alat Glukometer dengan ABX PENTRA 400 pada penderita Diabetes Melitus di RS. TK II Pelamonia Makassar.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian tersebut diatas maka permasalahan yang akan diangkat pada penelitian ini apakah ada perbedaan hasil kadar glukosa darah sewaktu menggunakan alat glukometer dengan ABX PENTRA 400 pada penderita Diabetes Melitus di RS Tk II pelamonia makassar.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu dengan menggunakan alat Glukometer dengan ABX PENTRA 400 pada penderita Diabetes Melitus.

2. Tujuan Khusus

Untuk menentukan perbedaan hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu menggunakan alat Glukometer dengan ABX PENTRA 400 pada penderita Diabetes Melitus di RS. TK II Pelamonia makassar.

D. Manfaat penelitian

a. Manfaat akademik

Sebagai sungbangsih pihak akademik dalam melakukan pembelajaran khussunya tentang penyakit diabetes meletus

b. Manfaat laboratorium

Memberikan masukan atau tambahan pengetahuan bagi tenaga kesehatan tentang cara penanganan dari pada penyakit glukosa dalam darah

c. Manfaat bagi peneliti

Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan program D III pada jurusan Analis kesehatan Masyarakat Makassar.

E. Hipotesis

Ho : µ = µb

Tidak terdapat perbedaan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktumenggunakan glukometer dengan ABX pentra 400.

Ha :µ < µo

Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu lebih baik menggunakan glukometer dibandingkan dengan ABX pentra 400.

Adapun kriteria penerimaan hipotesisnya adalah:

Ho = diterima bila t hitung <>

Ha = diterma bila t hitung > t tabel

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Karbohidrat

Karbohidrat adalah senyawa organik yang mengandung unsur utama, C, H, dan O. sumber utama karbohidrat di alam adalah hasil sintesis tumbuh-tumbuhan, seperti padi, jagung, kentang, ubi, dan sagu. Sintesis karbohidrat oleh tumbuh-tumbuhan merupakan suatu reaksi anabolisme, yang menyusun atau memproduksi senyawa dari unsur atau bahan yang lebih sederhana. Setiap reaksi sintesis atau anabolik membutuhkan energi. Sebaliknya reaksi pemecahan (lisis) akan menghasilkan energi.Secara hakiki, sumber induk energi pada tata surya kita adalah pancaran radiasi foton dari matahari (Zulbadar P, 2007).

5

Merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia. Senyawa ini merupakan cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam hati dan jaringan otot dalam bentuk glikogen. Energi yang terkandung dalam karbohidrat itu pada dasarnya berasal dari energi matahari. Karbohidrat dalam hal ini dibentuk dari karbon dioksida dan air melalui proses fotosintesis dalam sel berklorofil dengan bantuan sinar matahari. Karbohidrat yang dihasilkan merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar, batang dan biji sebagai pati. (Yasid,E, 2006).

Di Negara yang sedang berkembang, karbohidrat dikomsumsi sekitar 70 80 % dari karbohidrat total, bahkan pada daerah miskin biasa mencapai 90 % sedangkan pada Negara yang maju karbohidrat dikomsumsi hanya sekitar 40 60 %. Hal ini disebabkan makanan yang mengandung karbohidrat lebih murah harganya dibandingkan sumber makanan kaya lemak maupun protein (http//artikel kesehatan-online.blogspot.com.2008). Orang dewasa normal, yang hidup pada iklim sedang, mempunyai masukan karbohidrat rata-rata sekitar 400 g/hari dan ini memberikan sekitar setengah kebutuhan energi - nilai energi karbohidrat sekitar 17 kilojoule (kJ0) 4 kilokalori (kakl) per gram Defisiensi diet karbohidrat menyebabkan defisiensi masukan energi dan starvasi : jika masukan protein dan lemak tetap normal, dan masukan karbohidrat berkurang maka akan timbul ketosin.(Baron.D.N.1990).

B. Klasifikasi Karbohidrat

Terdapat tiga golongan karbohidrat yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida.

1. Monosakrida

Monosakarida adalah karbohidrat yang paling sederhana dalam arti molekulnya hanya terdiri dari beberapa atom karbon dan tidak dapat diuaraikan menjadi karbihidrat lain. Sehingga secara umum monosakarida juga disebut sebagai gula. Ada 3 jenis monosakarida yang penting yaitu glukosa, fruktosa dan galaktosa

a. Glukosa

Glukosa dijumpai dalam aliran darah dan berfungsi sebagai penyedia energi bagi seluruh sel-sel dari jaringan tubuh, pada keadaan fisiologis kadar gula darah sekitar 70-110 mg/dl (Sutedjo AY, 2007).

b. Fruktosa

Fruktosa merupakan jenis sakarida yang paling manis, dimana didalam tubuh fruktosa di dapat dari hasli pemecahan sukrosa

c. Galaktosa

Galaktosa yang ada dalam tubuh merupakan hasil hidrolisa dari laktosa

2. Oligosakarida

Merupakan karbohidrat yang tersusun dari dua sampel sepuluh satuan monosakarida. Oligosakarida yang umum adalah disakarida yang terdiri atas dua satuan monosakarida dan dapat dihidrolisis menjadi monosakarida. Contoh sukrosa, maltosa dan laktosa

3. Polisakarida

Merupakan senyawa karbohidrat kompleks, dapat mengandung lebih dari 80.000 molekul monosakarida yang tersusun membentuk rantai lurus ataupun bercabang. Polisakarida rasanya tawar (tidak manis), tidak seperti monosakarida dan disakarida. Polisakarida yang banyak dikenal ada empat yaitu : erilium, dekatrin, gliokogen dan selulosa (http://ms.wikipedia.org/wiki/karbohidrat)

C. Metabolisme Karbohidrat

Metabolisme adalah segala reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup, mulai dari makhluk bersel satu, yang sangat sederhana seperti bakteri, jamur, tumbuhan, hewan sampai kepada manusia, makhluk yang susunan tubuhnya sangat kompleks. Karbohidrat adalah komponen dalam makanan yang merupakan sumber energi yang utama bagi organisme hidup karbohidrat terdapat dalam berbagai bentuk termasuk gula sederhana atau monosakarida, disakarida dan polisakarida.

Semua jenis karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida , proses penyerapan ini terjadi di usus halus Glukosa dan galaktosa memasuki aliran darah dengan jalan transfer aktip, sedangkan fruktosa dengan jalan difusi setelah dengan usus halus, glukosa akan menuju kehepar melalui vena poitae, sebagian karbohidrat ini diikat di dalam hati dan disimpan sebagai glikogen, sehingga kadar gula darah dapat dipertahankan dalam batas-batas normal, yaitu 70-110 mg/dl (Sutedjo AY, 2007).

Apabila jumlah karbohidrat yang dimakan melebihi karbohidrat tubuh sebagian besar akan disimpan di dalam otot dan selebihnya di dalam hati sebagai glikogen. Bila memerlukan kembali energi tersebut, simpanan glikogen akan dipergunakan terlebih dahulu. Sel-sel tubuh yang sangat aktif dan memerlukan banyak energi, mendapatkan energi dari hasil perombakan glukosa yang diambil dari aliran darah. Kadar gula darah akan diisi kembali dari cadangan glikogen yang ada dalam hati kalau energi yang diperlukan lebih banyak lagi, timbunan lemak dari jaringan lemak mulai digunakan dalam jaringan lemak diubah kedalam zat antara yang dialirkan ke hati (http://ms.wikipedia.org/wiki/karbohidrat).

Pati merupakan sumber energi utama pada manusia yang diserap di usus dalam bentuk monosakarida,terutama glukosa. Glukosa dalam tubuh dapat disimpan sebagai glikogen dan dapat pula disimpan dalam bentuk yang sewaktu-waktu dapat digunakan kembali sebagai energi ( Zulbadar P, 2007).

D. Tinjauan Umum Glukosa

1. Pengertian Glukosa

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi kearah kanan.di dalam, glukosa terdapat pada buah-bahan dan madu lebah.

Glukosa merupakan gula yang paling penting bagi metabolisme tubuh, lebih dikenal sebai gesrtosa (gula fisiologis), bentuknya yang ditemukan dalam berbagai buah-buahan, jagung manis, sejumlah akar-akaran dan madu. Sebagai sumber yang normal, glukosa ditemukan dalam peredaran darah (poedjiadi A, 1994).

Glukosa sangat penting bagi kehidupan manusia karena merupakan sumber energi bagi tubuh. Karbohidrat dalam makanan setelah dicerna akan diserap oleh dinding hati. Oleh hati sebagian glukosa dikembalikan ke dalam darah untuk menjaga agar kadar glukosa dalam darah tetap konstan (Vitahealth,2004)

2. Metabolisme glukosa.

Metabolisme glukosa menghasilkan asam pruvat, asam laktat. Oksidasi lengkap glukosa menghasilkan karbon dioksida, air dan energi yang disimpan sebagai senyawa fosfat berenergi tinggi adenosin trifosfat. (ATP).

Apabila tidak segera di metabolisme untuk menghasilkan energi, glukosa dapat disimpan di hati atau di otot sebagai glikogen, suatu polimer yang terdiri dari banyak residu glukosa dalam bentuk yang dapat dibebaskan dan di metabolisasi sebagai glukosa. Hati juga dapat mengubah glukosa melalui jalur-jalur metabolik lain menjadi asam lemak yang di simpan sebagai trigiliserida, atau menjadi asam amino yang di gunakan untuk membentuk protein. Karena besarnya folime dan kandungan enzim untuk berbagai konversi metabolik, hati berperan penting dalam mendistribusikan glukosa untuk menghasilkan energi, di simpan serta tujuan-tujuan struktural lain. Apabila persediaan glikogen menipis dan glukosa yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi, hati dapat membentuk glukosa dari asam lemak dan juga asam amino (sacher, R.A. 2004).

E. Tinjauan Umum Diabetes Melitus

Diabetes melitus (DM) berasal dari kata yunani “tembus” atau “pancaran air” dan kata latin mellitus, “rasa manis” yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia (peningkatan kadar gula darah yang terus-menerus dan bervariasi, terutama sesudah makan (http//id.wiki/org/diabetesmellitus).

Diabetes Melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf,dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis (Setiowulan P, 1999).

Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan dimana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh. Diabetes mellitus dikenal juga dengan sebutan penyakit gula darah atau kencing manis yang mempunyai jumlah penderita yang cukup banyak terutama di Indonesia maupun di seluruh dunia. (Misnadiarly, 2006).

Penyakit kencing manis atau diabetes melitus memiliki gajala awal yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah hingga di atas 160-180 mg/dl. Kadar gula dalam darah yang tinggi akan membuat ginjal membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang akibat banyaknya glukosa yang dikeluarkan melalui air kemih.

(http//:obat propolis.com/tag/komplikasidiabetes)

Diagnosis khas Diabetes Melitus pada umumnya adalah terdapat keluhan khas yaitu poliuri (banyak kencing), polidiksia (banyak minum), polipagia (banyak makan), dan penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya.

Definisi Diabetes Melitus sesuai eksper commite on the diagnosis and klasifikation off diabetes Mellitus 2002 adalah kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan pada kerja insulin (insulin resestance), sekresi insulin atau keduanya bila berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan berbagai organ khususnya mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah (hardjoeno dkk, 2007)

a. Klasifikasi Diabetes Melitus

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengakui tiga bentuk diabetes melitus, yaitu tipe 1, tipe 2, dan diabetes gestasional (terjadi selama dalam kehamilan)

1. Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes millitus tipe 1 disebut insulin-independent diabetes (IDDM,”diabetes yang bergantung pada insulin”) terjadi pada anak dan hilangnya sel beta pada insulin atau pulau langerhans pancreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita pada anak kecil maupun orang dewasa.

Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olahraga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe ini. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan yang baik saat panyakit ini mulia dideritanya. Selain itu , sensifitas maupun respon tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe awal

2. Diabetes Melitus tipe 2

Diabetes melitus tepi 2 disebut Non-insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM). Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di jaringan perifer dan disfungsi sel beta, akibatnya pangkreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompenisasi insulin resistance kedua hal ini menyebabkan terjadi defisiensi insulin relatif gejala minimal dan kegemukan sering berhubngan dengan kondisis ini yang umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. Kadar insulin bisa normal rendah, maupun tinggi sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin

3. Diabetes Melitus Gestasional

Gestasional Diabetes Melitus (GDM) melibatkan kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormone insulin yang tidak cukup, menirukan dua jenis kencing manis dari beberapa pengakuan. Terjadi selama kehamilan dan dapat sembuh setelah melahirkan. GDM dan mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu hamil, dan sekitar 20-50% dari wanita penderita GDM bertahan hidup.

GDM terjadi sekitar 2-5% dari semua kehamilan. GDM bersifat temporer dan secara penuh biasanya perlakuan tetap tidak boleh menyebabkan permasalan dengan kehamilan. Penderita memerlukan pengawasan secara medis sepanjang kehamilan (http//id.wikipedia.org/wiki/diabetesmelitus)

b. Gejala dan Tanda-tanda Penyakit Diabetes melitus

Gejala dan tanda-tanda penyakit diabetes melitus dapat digolongkan menjadi gejala akut dan gejala kronik.

1. Gejala Akut

Gejala penyakit diabetes melitus ditunjukkan meliputi tiga serba banyak yatu, banyak makan (polifagia),banyak minum (polidifsia), serta banyak kencing (poliura). Pada fasa ini biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus naik atau bertambah gemuk, Karena pada saat ini insulin masih mencukupi. Apabila keadaan tidak cepat diobati makin lama akan timbul gejala yang disebabkan kurangnya insulin seperti banyak minum, banyak kencing, nafsu makan berkurang, BB menurun dengan cepat ( dapat turun 5-10 kg dalam waktu dua sampai empat minggu dan mudah lelah).

2. Gejala kronik

Penderita diabetes melitus tidak menunjukkan gejala akut (mendadak) tetapi kadar glukosa darahnya terlalu tinggi, biasanya melebihi 600 mg/dl penurunan berat badan yang paling sering menjadi keluhan utama penderita untuk pergi berobat ke dokter. Terkadang penderita penyakit diabetes melitus baru menunjukan gejala sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit diabetes melitus (www.google.com)

Kadang – kadang penderita DM tidak menunjukkan gejala akut (mendadak) tetapi baru menunjukkan gejala sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit DM gejala ini disebut gejala kronik atau menahun gejala kronik yang timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas.atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal dikulit sehingga kalau berjalan seperti diatas bantal atau kasur, keram, lelah, mudah mengantuk, mata kabur, biasanya sering ganti kaca mata, gatal disekitar kemaluan terutama wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun, bahkan impotent, serta pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau dengan berat badan lahir > 4 kg. (Misnadiarly, 2006)

c. Pencegahan Diabetes Melitus

1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan kepada orang-orang yang termasuk kedalam kategori berisiko tinggi yaitu orang-orang yang belum terkena penyakit ini tapi berpotensi mendapatkannya. Untuk pencegahan secara primer adalah sangat perlu diketahui terlebih dahulu faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap terjadinya Diabetes Melitus serta upaya yang dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut edukasi berperan penting dalam pencegahan secara primer.

2. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder merupakan suatu upaya pencegahan dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dalam memberikan pengobatan sejak awal deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan penyaring hanya saja pemeriksaan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Pengobatan penyakit sejak awal harus segera dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyakit menahun. Edukasi mengenai Diabetes Melitus dan pengelolaanya akan mempengaruhi peningkatan kepatuhan pasien untuk berobat

3. Pencegahan Tersier

Jika penyakit menahun diabetes melitus terjadi kepada anda, maka para ahli harus berusaha mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan merehabilitasi penderita sedini mungkin sebelum penderita mengalami kecacatan yang menetap. Contonya saja, acetosal dosis rendah (80-325mg) dapat diberikan sacara rutin bagi pasien diabetes melitus yang telah memiliki penyakit makroangiopati (pembuluh darah jantung, darah tepi, darah otak, pembuluh darah kapiler retina mata, dan pembuluh darah ginjal). Pelayanan kesehatan yang hiloistik dan terintegrasi antar disiplin terkait sangat diperlukan (http://artikel-kesehatan-online.blogspot.com)

F. Tinjauan Umum Darah

Darah terdiri dari unsur padat seperti eritrosit, leukosit, trombosit dan tersuspensi dalam media cair yang disebut dengan plasma. Begitu darah membeku (mengalami koagulasi) fase cair yang tertingal dinamakan serum. (Patiku Y,2009)

Suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat Dalam merupakan transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan kematian. Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45 % sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada tubuh kita yaitu sekitar sepertigabelas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau 5 liter. Fungsi darah pada tubuh manusia :

Alat pengangkut air dan menyebarkannya keseluruh tubuh, alat pengangkut oksigen dan menyebarkannya keseluruh tubuh, alat pengangkut sari makanan yang menyebarkannya keseluruh tubuh, alat pengangkut hasil oksidasi untuk dibuang melalui alat eksresi, alat pengangkut getah hormon dan kelenjar buntu. Menjaga suhu temperetur tubuh. Mencegah infeksi dengan sel darah putih, antibodi dan sel darah beku, Mengatur keseimbangan asam basah tubuh, dll. (http//www.geogle.co.id/pengertian darah)

G. Tinjauan glukosa darah

Melakukan pemeriksaan tes darah setahun sekali merupakan langkah yang harus dilakukan bagi kalangan usia remaja tujuannya dapat menghindari berbagai penyakit yang dapat mengancam kehidupan, dengan diketahuinya hasil tes darah tersebut kita dapat cepat menangkap adanya perubahan yang terjadi dalam tubuh kita sebelum berlanjut menjadi sakit yang serius seperti penyakit diabetes melitus.

Gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.

Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah pada pagi hari, sebelum orang makan (http//artikelkesehatan-online/glukosadarah).

Jika kadar gula darah turun, maka produksi dan pengeluaran insulin terhenti. Dan semua proses berjalan terbalik: gula dilepas dari tempat penyimpanan, bukannya ditimbun dalam otot dan hati, lemak dipecah dan asam lemak dibebaskan; dan protein dipecah bukan dibentuk. Insulin berfungsi sebagai polisi lalu lintas yang mengatur zat gizi menuju tempat penyimpanan atau digunakan untuk pertumbuhan.

Hal ini terjadi pada orang yang sehat. Jika sesuatu menganggu sistem yang canggih ini, maka akan terjadi kekacauan. Sejauh ini diabetes merupakan penyakit akibat metabolisme abnormal yang paling umum dijumpai. (David M, 2009)

Pemeriksaan glukosa darah tanpa persiapan bertujuan untuk melihat kadar gula darah sesaat tanpa puasa dan tanpa pertimbangan waktu setelah makan. Dilakukan untuk penjajagan awal pada penderita yang diduga DM sebelum dilakukan pemeriksaan yang sungguh-sungguh (Sutedjo AY, 2007). Kurang efisiennya penggunaan dan pemeliharaan sarana dan peralatan kesehatan juga diakibatkan karena kurang dilakukannya perencanaan pengadaan peralatan dan pemeliharaanya. Di beberapa negara kurang dari separuh peralatan yang ada tidak digunakan secara rutin. Karena lemahnya pengoperasian dan kurangnya kemampuan pemeliharaan serta tidak tersedianya biaya pemeliharaan (yang seharusnya di sediakan sekurangnya 1 % dari nilai investasi peralatan tersebut), optimalnya biaya pemeliharaan adalah 7 - 8 % dari biaya peralatan. Kurang baiknya pemeliharaan peralatan medik sering kali berakibat pada pendeknya masa pakai peralatan tersebut, dan berdampak pada meningkatnya tambahan biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan mencapai 20%-40%. Berkurangnya inventaris peralatan yang dapat digunakan meningkatkan biaya pelayanan hingga 60%-80%. Disamping itu tidak tepatnya pemilihan peralatan medik mengakibatkan meningkatnya secara bermakna biaya kesehatan yang harus ditanggung pasien.

Dalam Kepmenkes No. 004 tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang kesehatan disebutkan salah satu tujuan strategis adalah upaya penataan manajemen kesehatan di era desentralisasi. Salah satu langkah kunci dalam tujuan tersebut adalah mengembangkan sub sistem pemeliharaan dan optimalisasi pemanfaatan sarana dan alat kesehatan. Dan dalam langkah kunci 28 Kepmenkes tersebut di atas dinyatakan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan dapat tercapai bila tersedia biaya operasional dan pemeliharaan sarana dan alat kesehatan yang memadai dan untuk itu haruslah disusun petunjuk teknis dan standart operational procedure (SOP) tentang pemeliharaan dan optimalisasi pemanfaatan sarana rumah sakit dan alat kesehatan. (Depkes RI, 2003)

H. Prinsip Kerja Glukometer Accu Check

Alat glukometer non invansif telah diperkenalkan sejak empat tahun yang lalu. Ketika itu masih dalam tahap prototipe. Alat ini menggunakan prinsip kerja ultrasound, menggunakan kapasitas panas dan menghantar panas sebagai sensor pengukur gula. Hasil pengukuran cukup cepat dalam hitungan detik.

Bagi pasien yang terbiasa dengan pengukuran metode jarum atau pinset mungkin tidak jadi masalah. Tetapi pasien DM anak dan remaja mungkin memerlukan opsi lainnya tanpa harus mengidap trauma jarum suntik.

Gambar 2.1 glukometer accu check .

I. Prinsip Kerja ABX PENTRA 400

Prinsip kerja ABX PENTRA 400 adalah sinar dari lampu hologen dikumpulkan oleh lensa kedua, sorotan sinar itu melewati kuvet pengantar tempat berinteraksi dengan campuran sinar reaksi. Sinar yang dari kuvet melewati lensa filtter menjadi sinar monokromatik dan diteruskan ke detektor.

Gambar 2.2 ABX PENTRA 400

J. Kerangka Fikir

Karbohidrat yang di komsumsi akan dicerna menjadi monosakarida dan diabsorbsi dalam duodenum dan jejunum proksimal. Setelah diabsorbsi, kadar glukosa darah akan meningkat, pada penderita DM, hormone insulin yang berfungsi menurunkan kadar glukosa darah tidak terdapat atau terdapat insulin tetapi kualitas dari insulin tersebut menurun, sehingga kadar glukosa tidak dapat dipertahankan dan akan mengakibatkan hiperglikemia. Jika kadar Glukosa darah mencapai lebih dari 180 mg/dl, Pemeriksaan kimia darah dilakukan dengan Glukometer dengan sampel whole blood dan menggunakan ABX PENTRA 400 dengan sampel berupa berupa serum.

1.Kerangka Fikir

KARBOHIDRAT

HIPERGLIKEMIA

GLUKOSA DALAM DARAH

KADAR GLUKOSA TIDAK DAPAT DIPERTAHANKAN

DIABETES MELITUS

PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH

ABX PENTRA 400

GLUKOMETER

DARAH

SERUM

UJI T


Gambar 2.3 Kerangka fikir

BAB III

METODE PENELITIAN DAN KERANGKA OPERASIONAL

A. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi laboratorik untuk membandingkan hasil pemeriksaan gula darah sewaktu menggunakan alat glukometer dengan ABX PENTRA 400 pada penderita diabetes melitus di RS TK II pelamonia makassar.

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

a. Populasi Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang memeriksakan kadar glukosa darah di RS TK II pelamonia makassar.

b. Sampel Penelitian

Darah whole blood dan serum yang dijadikan sampel untuk memeriksa kadar glukosa sebanyak 20 spesimen.

c. Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah secara porposive sampling.

C. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah glukometer dan ABX PENTRA 400.

25


2. Variabel terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu menggunakan alat Glukometer dan ABX PENTRA 400.

D. Defenisi Operasional dan Kerangka Operasional.

1. Defenisi operasional : perbandingan hasil yang di ambil secara bersamaan dan langsung diperiksa sebagai kontrol kemudian pada pemeriksaan berikutnya dibuat sebagai sampel.

Darah : Merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transportasi serta mempunyai banyak kegunaan untuk menunjang kehidupan.

Serum : Komponen yang bukan berupa sel darah, faktor koagulasi dan merupakan plasma darah tanpa fibrinogen.

Kadar glukosa darah : Adalah kadar glukosa yang terdapat dalam darah yang di nyatakan dalam mg/dl.

Glukometer : Alat yang digunakan untuk memeriksa kadar glukosa darah sewaktu menggunakan strip yang dibaca dengan alat digital dengan sampel whole blood (darah langsung).

ABX PENTRA 400 : Alat semiautomatik yang di rancang khusus untuk membaca hasil pemeriksaan kadar glukosa darah.

2. Kerangka Operasional

SAMPEL DARAH

PEMERIKSAAN GLUKOSA

ABX PENTRA 400

ANALISIS DATA

GLUKOMETER

HASIL

KESIMPULAN


Gambar 2.4 Kerangka Operasional

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

a. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di laboratorium RS TK II pelamonia Makassar.

b. Waktu penelitian

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 07-12 juni 2010.

F. Bahan Penelitian

Bahan yang biasa digunakan dalam penelitian ini adalah strip,kuvet.darah,serum,tips biru,reagen glukosa.

G. Instrument Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah spoit, tabung reaksi, clinipet, Glukometer accu check dan ABX PENTRA 400.

H. Prosedur Kerja Glukometer dan ABX PENTRA 400

1. Prosedur kerja glukometer

a. Siapkan alat dan bahan

b. Berikan alkohol pada jari yang akan ditusuk

c. kemudian alirkan darah ke strip

d. Tunggu hasil dalam waktu beberapa detik.

2. Prosedur Kerja ABX pentra 400

a. Periksa kondisi dari alat

1) Air aquadest pada reservoir bottle, tambahkan air jika kurang.

2) Waste container, kosongkan container jika sudah penuh.

3) Kuvet baru, tambahkan jika kurang.

4) Kuvet bekas, kosongkan tempat kuvet bekas.

5) Ketersediaan kertas printer

b. Nyalakan ABX Pentra 400 dengan cara

1) Manual : tekan tombol hitam yang berada di bagian sebelah kanan dari alat

2) Otomatis : alat akan langsung secara otomatis

3) Tunggu beberapa saat sampai alat menunjukkan ready. Masukkan nama operator dan masukkan password. Pilih new worklist untuk memulai dengan worklist baru kemudian tekan OK.

4) Tunggu alat melakukan proses StarUp sampai alat berada pada Menu Utama dan menunjukkan Ready

5) Lakukan control dan kalibrator terhadap parameter yang akan diperiksa

6) Alat siap digunakan untuk sampel.

c. Cara melakukan kalibrasi control

1) Dari menu utama pilih Worklist

2) Pilih Calibration dari menu worklist, kemudian tekan Add New untuk menambahkan jenis parameter yang akan di calibration

3) Pilih All Calibrations expired lalu tekan OK untuk Validasi atau pilih jenis parameter yang akan dikalibrasi

4) Pilih Control untuk melakukan control, kemudian pilih Add New untuk melakukan jenis control yang akan dilakukan

5) Pilih Default Control untuk melakukan control terhadap semua parameter atau pilih jenis control secara manual. Tekan OK untuk validasi terhadap permintaan control

6) Tekan tombol Run untuk memulai pemeriksaan.

d. Melihat Status Sampel

1) Dipergunakan untuk melihat status dari sample yang sedang dijalankan. Dari menu utama periksa status dari sampel yang ada dari sampel tray dengan melihat warna yang ada.

2) Jika ada sampel yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, tekan test review

3) Kemudian tekan sampline exception untuk melihat sampling alarm yang akan terjadi.

e. Cara Mematikan Alat

1) Tekan tombol utama dari menu utama sehingga pada layar keluar menu Shutdown

2) Pilih Standby kemudian beri tanda ISE Cleaning jika ada dan system Cleaning kemudian tekan OK

I. Analisa Data

Data yang diperoleh dilakukan dengan perhitungan “UJI T” dengan rumus uji T :

Ket :

: nilai rata-rata sampel 1

: nilai rata-rata sampel 2

S : simpangan baku gabungan dua sampel

: Varian sampel 1

: varian sampel 2

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 07 sampai 12 juni 2010 untuk membandingkan hasil pemeriksaan Glukosa darah sewaktu menggunakan alat glukometer dengan ABX pentra 400 pada penderita Diabetes Melitus di RS Tk II pelamonia makassar.

Tabel 1. Hasil penelitian glukosa darah sewaktu menggunakan alat glukometer dengan ABX pentra 400 pada penderita diabetes melitus di RS Tk II pelamonia Makassar.

No.

Kode Sampel

Kadar Glukosa Darah (mg/dl)

Glukometer

ABX Pentra 400

1.

A

251

226

2.

B

138

118

3.

C

137

119

4.

D

81

59

5.

E

392

268

6.

F

115

92

7.

G

105

87

8.

H

201

185

9.

I

315

284

10

J

205

184

11.

K

179

163

12.

L

162

148

13.

M

287

258

14.

N

194

165

15.

O

240

221

16.

P

185

162

17.

Q

148

126

18.

R

164

142

19.

S

263

241

20.

T

182

164

Sumber : Data Primer Juni 2010

32


B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dilaboratorium RS Tk II pelamonia Makassar. Mulai tanggal 07 sampai 12 juni 2010, bahwa yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah penderita Diabetes Melitus yang diambil darahnya sebanyak 20 pasien.

Dari tabel 1, menunjukkan bahwa dari 20 penderita Diabetes Melitus yang diambil darahnya dan diperiksa kadar glukosa darahnya menggunakan alat Glukometer diperoleh kadar terendah 81 mg/dl dan tertinggi 392 mg/dl dan nilai rata-ratanya 197,2 mg/dl. Sedangkan pada pemeriksaan glukosa darah menggunakan ABX pentra 400 diperoleh kadar terendah 59 mg/dl dan kadar tertinggi 284 mg/dl, dan nilai rata-ratanya 170,6 m/dl.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu menggunakan Glukometer lebih besar dari pada nilai rata-rata pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu menggunakan ABX pentra 400.

Pemeriksaan Glukosa darah sewaktu dengan menggunakan alat Glukometer dengan ABX pentra 400 tidak ada perbedaan bermakna sehingga kedua metode ini dapat dijadikan pegangan dalam upaya menunjang diaagnosa dan memantau perjalanan penyakit. Alat Glukometer dapat memberi hasail yang sangat baik karena dalam hitungan detik hasil dapat langsung kita ketahui. Alat ABX pentra 400 harus menunggu dalam hitungan menit karena sampel darah yang kita ambil dari penderita Diabetes Melitus harus dibekukan kemudian kita tunggu darah terpisah dengan cairannya kemudian diputar menggunakan sentrifuge selama 5 menit untuk mendapatkan serumnnya.

Bebarapa aktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan adalah faktor pra analitik dan pasca analitik. Faktor pra analitik meliputi persiapan pasien, pengambilan sampel, penanganan, dan penyimpanan sampel. Faktor analitik meliputi alat yang digunakan pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu seperti clinipet, ttips, strip, reagent, lukometer, ABX pentra 400 dan metode yang digunakan. Sertta pasca analitik yang meliputi penulisan hasil pemeriksaan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil peelitian pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu menggunakan alat Glukometer dengan ABX pentra 400 pada penderita Diabetes Melitus di RS Tk II pelamonia makassar mulai tanggal 07 sampai 12 juni 2010 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan GDS menggunakan alat Glukometer dengan ABX pentra 400 dengan t hitung (1,203) (a :0,05).

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas penulis menyarankan bahwa

1. Kedua alat ini dapat dijadikan pegangan dalam melakukan pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu.

2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian terhadap variabel lain.

35

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar